Akhir-akhir ini banyak berita tentang kecelakaan di jalan yang
melibatkan pengendara motor atau pengemudi mobil yang berusia sangat
muda. Berita yang terakhir ketika tulisan ini dibuat adalah tentang
mahasiswa ITB yang tertabrak motor kemudian meninggal. Pengendara motor
berusia 16 tahun. Mahasiswa yang meninggal belum sampai satu tahun di
ITB. Bulan lalu ada kecelakaan di jalan Merdeka (Bandung). Pengendara
motor, seorang pelajar yang buru-buru ke sekolah, menyerempet
penyeberang jalan dan kemudian sang pengendara ini nampaknya entah
terpental atau terjatuh sehingga mengenai tiang dan meninggal. Tragis.
Di sekitar tempat tinggal saya, sering saya dapati anak-anak berusia
sangat muda – mungkin kelas 6 SD atau baru masuk SMP – yang mengendarai
motor. Kadang mereka berboncengan sampai bertiga. Karena ini jalan di
daerah “kampung” maka mereka tidak mengenakan helm. Seram pokoknya.
Anak-anak yang terlalu muda ini seharusnya tidak dilepas begitu saja
ketika mengendarai mobil atau motornya. Mereka harus disertai dengan
orang tua. Kalau di luar negeri itu ada “learner’s permit”. Ijin
mengemudi untuk yang sedang belajar dan harus ditemani oleh orang yang
sudah memiliki ijin. Mengapa anak-anak ini tidak boleh mengendarai
sendiri?
Anak-anak ini masih muda dan tentunya berjiwa muda. Mereka belum
mengenal apa yang disebut dengan “sabar”. Di jalan mereka tidak sabar
untuk menunggu, antri, memberi jalan kepada orang lain, dan hal-hal lain
yang terkait dengan kesabaran. Dipepet sedikit saja oleh orang lain,
langsung panas dan ngajak balapan. Di tengah kemacetanpun, kalau bisa
tidak berhenti. Padahal sebaiknya mengemudi itu “defensif driving“, yaitu tidak agresif. Sabar.
Anak muda masih belum dapat melihat situasi. Apakah pengendara di
depan akan berhenti, belok, atau bahkan nekad ngaco? Apakah penyeberang
akan nekat berlari menyeberang atau berhenti? Hal ini dapat dipelajari
melalui pengalaman. Waktu. Jam terbang. Yang mana ini belum dimiliki
oleh anak muda tersebut. Inilah sebabnya mereka harus ditemani dan
diajari dahulu untuk menambah jam terbang.
Anak muda masih sering menghayal, misal menghayal jadi pembalap. Maka
di jalan mereka merasa jadi pembalap dan tidak mengerti bahwa pembalap
itu hanya bisa dilakukan di lintasan balapan, bukan di jalan raya/umum.
Anak muda masih ingin menunjukkan jati dirinya. Saya jagoan. Saya bisa
ngebut. Padahal memangnya asal bisa nginjek gas itu jagoan? (Ada
beberapa cerita yang menunjukkan mereka memotret speedometer mereka
untuk gaya-gaya-an.)
Bahwa seseorang dapat naik ke atas motor (atau duduk di belakang
kemudi mobil), gas, pindah kopling (untuk yang manual), dan membelokkan
setirnya bukan berarti dia lantas boleh masuk ke jalan (apalagi jalan
raya). Kemampuan teknis saja belum cukup. Dibutuhkan kematangan emosional juga.
Sudah saatnya kita pro-aktif dalam melarang (anak-anak kita) dan
menegur anak-anak yang masih belum cukup umur untuk mengendarai
kendaraan. Mari kita selamatkan mereka dan pengguna jalan lainnya.
Home »
» Masalah Pengendara / Pengemudi Muda
Masalah Pengendara / Pengemudi Muda
Written By Unknown on Jumat, 13 Desember 2013 | 23.52.00
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.

0 komentar:
Posting Komentar